MHM Tegaskan Pentingnya Akhlak dan Ilmu Pengetahuan dalam Mewujudkan Khaira Ummah

Diskusi publik dengan tema "Seruan Ahlul Qiblat dan Ikhtiar Menguatkan Dialog Intra Islam" digelar oleh Majelis Hukama Muslimin (MHM) pada Islamic Book Fair (IBF) 2025 di Jakarta. (Dok. Ist)

NASIONAL – Majelis Hukama Muslimin (MHM) menekankan pentingnya akhlak dan moral dalam kehidupan umat Islam, terutama di tengah tantangan zaman modern. Hal ini disampaikan dalam seminar bertema “Seruan Ahlul Qiblat dan Ikhtiar Menguatkan Dialog Intra Islam” yang digelar dalam rangkaian Islamic Book Fair (IBF) 2025.

Salah satu pembicara, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Syafiq Mughni, menyampaikan bahwa umat Islam perlu menjadi khaira ummah atau umat terbaik. Menurutnya, pencapaian tersebut tak bisa dilepaskan dari kombinasi antara penguasaan ilmu pengetahuan dan kekuatan akhlak.

“Sesungguhnya kejayaan umat tergantung akhlaknya. Kalau akhlaknya hancur, hancur juga bangsa itu,” ujar Syafiq di Jakarta, Minggu (22/6).

Ia menambahkan bahwa umat Islam tidak bisa menjadi umat terbaik jika hanya memiliki pengetahuan yang minim. “Kalau umat Islam memiliki pengetahuan yang rendah, atau yang sedang-sedang saja, maka ini tidak mungkin bisa bergerak menjadi khaira ummah,” katanya.

Syafiq juga menyoroti tantangan perkembangan zaman yang dinamis, terutama kemajuan teknologi yang harus diimbangi dengan peningkatan kualitas moral.

“Ilmu dan akhlak itu tidak selalu berjalan seiring. Ada masyarakat yang ilmu pengetahuannya rendah, tapi akhlaknya tinggi. Ada juga yang sebaliknya. Maka umat Islam harus menyeimbangkan keduanya agar bisa menjadi khaira ummah,” paparnya.

Ia menegaskan, moral yang baik juga menjadi kunci dalam menyikapi perbedaan dengan cara yang moderat atau wasathiyah.

“Wawasan kita harus terus diperluas, agar tidak mudah mengkafirkan atau mendiskreditkan kelompok lain,” imbuh Syafiq.

Sementara itu, Alissa Wahid dari Jaringan Gusdurian menekankan pentingnya merawat keragaman dalam tubuh umat Islam di Indonesia. Menurutnya, Islam yang berkembang di Indonesia sudah akrab dengan perbedaan sejak lama.

“Islam di Indonesia inklusif karena terbentuk dari sejarah panjang. Para ulama kita dulu belajar di Makkah dan Madinah dalam suasana inklusif, membawa pulang semangat saling menghargai antar mazhab,” ujar Alissa.

Ia menambahkan bahwa untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin, ada tiga bentuk ukhuwah (persaudaraan) yang harus terus dipelihara, yaitu ukhuwah Islamiyah (sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (antar sesama warga negara), dan ukhuwah insaniyah (antar sesama manusia).

Salah satu pesan penting dalam seruan Ahlul Qiblat, menurut Alissa, adalah pentingnya menjaga persatuan antar golongan dalam Islam dan tidak terjebak dalam eksklusivisme.

“Islam mengajak semua pihak untuk tidak terjebak pada klaim kebenaran dan sikap eksklusif, serta terus menghidupkan ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah,” jelasnya.

Alissa juga mengutip pandangan Gus Dur tentang masa depan Islam. Ia menyebut ada dua poros peradaban Islam: Timur Tengah sebagai tempat kelahiran Islam, dan Asia Tenggara—terutama Indonesia—sebagai pusat pertumbuhannya di tengah keberagaman.

“Apa yang terjadi di Indonesia akan berdampak besar pada arah peradaban Islam global,” tutupnya.